Archive for Mei 2019

Pembuatan IPAL di RS Royal Progress

TINJAUAN  UMUM  KARAKTERISTIK  AIR  LIMBAH STP  

 Pembuatan IPAL di RS Royal Progress

Karakteristik air limbah Rumah Sakit Royal Progress dapat ditinjau dari dua sisi, yaitu karakteristik kimiawi dan karakteristik aliran. Apabila kedua karakteristik ini digabungkan, maka keduanya dapat memberikan gambaran mengenai beban pencemaran dari air limbah domestik yang dikeluarkan.

         Beban pencemaran yang terhitung dari data yang ada bersama dengan baku mutu limbah cair PERMEN LHK No. 68 Tahun 2016 tentang baku mutu limbah cair domestik, dijadikan dasar dari perencanaan pembangunan Sewage Treatment Plant (STP/IPAL Domestik) Rumah Sakit Royal Progress.

1.1    KARAKTERISTIK ALIRAN

Air limbah yang dihasilkan dalam kegiatan Rumah Sakit Royal Progress berasal dari sumber kegiatan domestik dengan kapasitas rata-rata sebesar kurang lebih 211 m3/hari.

1.2    KRITERIA DESAIN PERHITUNGAN
  1. Bentuk Proses
  2. Proses Fisika
  3. Proses Biologi
  • Parameter / Kriteria Desain
–    Laju Alir Volumetric : 211 m3/hari
–    Jam Kerja Proses Biologi : 24 jam
–    Kapasitas Desain : 300 m3/hari
–    Safety Factor : 20%
–    Influent BOD5 : 300 mg/L
–    Effluent BOD5 : 15 mg/L
–    Influent COD : 600 mg/L
–    Efluent COD : 50 mg/L
–    Influent TSS : 120 mg/L
–    Effluent TSS : 15 mg/L
–    Influent pH : 6 – 7
–    Effluent pH : 6 – 9
–    Influent Minyak / Lemak : 90 mg/L
–    Effluent Minyak/ Lemak : 1 mg/L
–    Influent Ammonia : 30 mg/L
–    Effluent Ammonia : 5 mg/L
–    Influent Coliform : 5000 mg/L
–    Effluent Coliform : 900 mg/L
–    Effisiensi IPAL : 90% s/d 99%
1.3    BAKU MUTU AIR LIMBAH

Target hasil olahan dari instalasi yang akan dibangun ini adalah memenuhi baku mutu limbah cair domestik PERMEN LHK No 68 Tahun 2016  dengan penekanan pada beberapa parameter di bawah ini :

1.4   Flowchart IPAL
Pembuatan IPAL di RS Royal Progress

Flowchart IPAL
1.5   Tahapan Proses
  1. Grease Trap

Fungsi : Proses ini untuk memisahkan zat mengapung seperti minyak/oli yang berasal dari degreasing yang bersumber dari proses sebelumnya.

  • Pre Sedimentasi

Fungsi : Proses ini untuk memisahkan padatan tersuspensi yang terdapat pada air limbah. Zat tersuspensi nantinya akan mengendap di dasar bak.

  • Ekualisasi

Fungsi : Proses ini  berfungsi untuk menghomogenkan atau menyeragamkan parameter pencemar air limbah yang akan diolah karena setiap menitnya, kadarnya mengalami fluktuatif sehingga mempermudah untuk diproses pada pengolahan tahap biologi (Aerasi).

  • Aerasi

Fungsi : Pada bak aerasi ini terjadi penambahan oksigen kedalam air limbah dengan menggunakan blower. Pada bak ini dilengkapi dengan difuser sehingga oksigen yang dimasukan kedalam air limbah dapat merata. Pada proses ini juga memanfaatkan jasa bakteri (lumpur aktif) untuk menguraikan bahan organik air limbah, sehingga dapat menurunkan BOD5 dan COD sampai mencapai 90 %.

Proses activated sludge ini dikembangkan di Inggris pada tahun 1914 oleh Ardem dan Lockett dan dinamakan proses lumpur aktif dari mikroorganisme yang mampu menstabilikan air limbah secara aerob. Secara operasional pengolahan limbah biologis dengan proses lumpur aktif ini dilakukan dengan memasukan limbah organik kedalam bak aerasi yang berisi koloni bakteri yang dijaga dalam keadaan tersuspensi. Isi dari reaktor tersebut biasanya disebut sebagai mixed liquor. Kultur bakteri akan mengkonsumsi limbah organik menjadi senyawa sederhana dengan stoikiometri umum, sebagai berikut :

Bakteri

CHONS + O+ Nutrien                CO2 + NH3 + C5H7NO2 + Produk Akhir Lain

(zat organik)                                              (sel bakteri baru)

Bakteri

C5H7NO2 + 5O2                                 5CO2 + 2H2O + NH3 + Energi (sel)

 Di dalam persamaan diatas, CHONS mewakili senyawa-senyawa organik di dalam air. Meskipun respirasi endogen menghasilkan produk-produk akhir yang sederhana dan energi, namun produk akhir yang berupa senyawa organik yang stabil juga dapat terbentuk.

  • Clarifier (Sedimentasi)

Fungsi :  Untuk memisahkan air limbah olahan dari lumpur aktif . Air limbah yang sudah melalui proses aerasi kemudian lumpur aktifnya diendapkan di clarifier. Dari clarifier ini, lumpur aktif sebagian di recycle dan sebagian dibuang melalui sludge holding atau filter press. Clarifier  berfungsi untuk menjaga tersedianya konsentrasi lumpur aktif dalam jumlah yang cukup pada bak aerasi, sehingga derajat pengolahan yang diperlukan dapat dipenuhi dalam waktu yang tidak ditentukan.

Pengembalian lumpur aktif dari Clarifier ke dalam inlet bak aerasi merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam suatu proses. Pada dasar clarifier akan terbentuk selimut lumpur yang ketebalannya bervariasi dari waktu ke waktu.

  • Effluen Tank

Fungsi :  Tempat penyimpanan sementara air limbah hasil olahan untuk diolah ke tahap berikutnya yaitu Filtrasi.

  • Chlorine

Fungsi :  Sebagai Desinfectan (mengurangi kadar coliform pada air limbah hasil olahan).

  • Sand Filter Dan Carbon Filter

Fungsi : Untuk menurunkan kadar pencemar parameter yang berada didalam air limbah seperti zat organik, warna dan bau. Disamping itu juga berfungsi sebagai penyaring flok – flok yang masih terbawa kesaluran Outlet

  • Flow Meter

Fungsi : Untuk mencatat debit air limbah yang diolah setiap harinya, dimana yang harus diperhatikan adalah putaran angkanya.

  • Sludge Holding

Fungsi : Merupakan bak tertutup yang berfungsi sebagai tempat penampung lumpur sementara yang selanjutnya dapat dikirim ke pihak ke-3.

Foto Pekrajaan Pembuatan IPAL di RS Royal Progress Klik Disini